Pertanyaan ini cukup banyak orang yang melontarkan, termasuk orang-orang di
kalangan umat Islam. Sayangnya, jawaban yang muncul cukup bermacam-macam. Padahal
Allah dan Rasulullah Muhammad Shallallaah ‘alayh wa sallam telah
menjelaskan hal itu dengan sangat gamblang, baik dalam al Qur’an maupun al
Hadits. Jadi, seharusnya tidak terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat
Islam tentang hal ini.
Hal ini pun pernah ditanyakan oleh sebagian Shahabat yang berasal dari
daerah Yaman kepada Baginda Rasulullah Shallallaah ‘alayh wa sallam. Shahabat-shahabat
yang berasal dari Yaman memang memiliki keistimewaan dibanding lainnya, yaitu
keinginan yang lebih untuk belajar agama. Mereka berkata: “Duhai Rasulullah,
kami mendatangimu untuk mempelajari agama dan untuk menanyakan kepada engkau
tentang makhluk di alam yang diciptakan pertama kali.” Rasulullah menjawab:
كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ
غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ (رواه البخاري و البيهقي و ابن الجارود)
Maknanya:
“Allah ada pada azal dan tidak ada sesuatu apapun selain-Nya. Dan ‘arsy Allah
berada di atas air.”
Kita lihat, ternyata Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan
didahului keterangan yang jauh lebih penting dari pertanyaan yang diberikan,
baru kemudian Rasulullah memberikan jawaban. Rasulullah pertama-tama
menjelaskan bahwa yang ada pada azal hanyalah Allah. Hanya Allah yang bersifat
azali, artinya hanya Allah yang ada tanpa permulaan. Tiada sesuatupun yang ada
pada azal kecuali Allah. Tidak ada makhluk satupun yang ada pada azal, baik itu
jenisnya maupun materinya. Berbeda dengan yang dijelaskan oleh sebagian
filosof. Filosof ada yang mengatakan bahwa jenis makhluk bersifat azali, dan
ada juga yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya bersifat azali. Perkataan
mereka ini bertentangan dengan keyakinan yang ditanamkan oleh Rasulullah
melalui hadits di atas, bahwa hanya Allah semata yang bersifat azali. Orang
yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya atau jenisnya saja bersifat
azali sama saja mengatakan bahwa ada sesuatu yang ada tanpa permulaan selain
Allah dan sama pula mengatakan bahwa makhluk yang dimaksudkan adalah tuhan,
karena yang ada tanpa permulaan atau tanpa diciptakan pastilah tuhan semata. Na’uudzu
billaah...
Dapat disimpulkan pula dari hadits di atas, karena tidak ada satu pun
makhluk yang bersama Allah pada azal, maka Allah ada tanpa tempat, tanpa arah,
dan tanpa dilalui oleh masa. Sesungguhnya tempat, arah, dan peredaran masa
merupakan salah satu makhluk yang diciptakan Allah. Dan pada azal, hanya Allah
yang ada, tidak ada sesuatu pun selain-Nya.
Setelah menanamkan keyakinan yang mulia ini, Rasulullah menjawab dengan
menjelaskan bahwa ‘arsy diciptakan di atas air. Artinya, kedua makhluk ini, air
dan ‘arsy, adalah dua makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Dalam
hadits tersebut tidak disebutkan mana di antara dua makhluk ini yang diciptakan
lebih dahulu. Namun, terdapat hadits lain yang menjelaskannya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ
نَفْسِيْ وَقَرَّتْ عَيْنِيْ، فَأَنْبِئْنِيْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ. قَالَ: إِنَّ
اللهَ تَعَالَى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ مِنَ الْمَاءِ.
Maknanya:
“dari Abu Hurairah Radliyallaah ‘anhu, beliau berkata: “Duhai
Rasulullah, sesungguhnya saya ketika melihatmu maka tenanglah hatiku dan
tenteramlah mataku. Maka beritahukan padaku tentang segala sesuatu.” Rasulullah
bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dari air.”
Dari hadits ini dapat dipahami bahwa air merupakan bahan dari segala
sesuatu yang ada di alam semesta ini. Maka air adalah makhluk yang pertama diciptakan
oleh Allah setelah sebelumnya tidak ada sesuatupun selain Allah. Baru setelah
itu ‘arsy diciptakan dari air dan ditempatkan di atas air. Kemudian ‘arsy dan
air terpisah dan terdapat suatu jarak dan ruang kosong antara air dan ‘arsy.
Dan pada akhirnya, ‘arsy dipikul oleh malaikat yang diciptakan oleh Allah dalam
rentan waktu yang telah ditentukan oleh Allah.
Allah pun berfirman dalam surat al Anbiya ayat 30:
وَجَعَلْنَا مِنَ اْلماَءِ كُلَّ
شَيْءٍ حَيٍّ
Maknanya:
“dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.”
Ayat
tersebut menyebutkan bahwa makhluk yang hidup yang diciptakan dari air, seperti
manusia, jin, malaikat, hewan, dan tumbuhan. Namun bukan berarti hanya makhluk
yang hidup saja yang diciptakan dari air. Penyebutan makhluk yang hidup dalam
ayat tersebut dan tanpa penyebutan makhluk yang tidak hidup dimaksudkan untuk
memberitahukan bahwa makhluk yang hidup lebih mulia dari makhluk yang tidak
hidup. Artinya, semua makhluk baik yang hidup maupun tidak sama-sama diciptakan
dari air. Dalam ayat lainnya Allah juga menyebutkan hanya sebagian makhluk saja
namun sebenarnya makhluk-makhluk yang lain juga memiliki hukum/predikat yang
sama dengan yang disebutkan dengan tujuan untuk memberitahukan
kemuliaan/kelebihan makhluk yang disebutkan tersebut. Allah berfirman:
وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Dalam ayat
tersebut disebutkan bahwa Allah adalah penguasa ‘arsy. Namun tidak dipahami
bahwa Allah hanya menguasai ‘arsy saja, melainkan seluruh makhluk di alam ini
semuanya dikuasai oleh Allah. Penyebutan ‘arsy ini adalah menunjukkan bahwa
Allah memuliakan ‘arsy dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.
Kasusnya sama ketika, misalkan, ada seorang teman kita yang berprestasi
menjuarai suatu perlombaan bergengsi, maka kita akan mengatakan: “saya adalah
teman sang juara itu.” Bukan berarti kita hanya memiliki teman satu orang saja,
yaitu teman yang menjadi juara itu, melainkan kita memiliki banyak teman
selainnya, hanya saja teman yang menjadi juara itu memiliki arti lebih menurut
kita.
Sumber:
Lembaga
penelitian dan Pengembangan Syahamah. 2008. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Pengurus Besar Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah. Syahamah Press. Jakarta Timur
facebook.com/Shaykh.Salim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar