Jumat, 07 Februari 2014

Makhluk Apakah Yang Pertama Tercipta? (Bagian I)


Pertanyaan ini cukup banyak orang yang melontarkan, termasuk orang-orang di kalangan umat Islam. Sayangnya, jawaban yang muncul cukup bermacam-macam. Padahal Allah dan Rasulullah Muhammad Shallallaah ‘alayh wa sallam telah menjelaskan hal itu dengan sangat gamblang, baik dalam al Qur’an maupun al Hadits. Jadi, seharusnya tidak terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam tentang hal ini.

Hal ini pun pernah ditanyakan oleh sebagian Shahabat yang berasal dari daerah Yaman kepada Baginda Rasulullah Shallallaah ‘alayh wa sallam. Shahabat-shahabat yang berasal dari Yaman memang memiliki keistimewaan dibanding lainnya, yaitu keinginan yang lebih untuk belajar agama. Mereka berkata: “Duhai Rasulullah, kami mendatangimu untuk mempelajari agama dan untuk menanyakan kepada engkau tentang makhluk di alam yang diciptakan pertama kali.” Rasulullah menjawab: 

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ (رواه البخاري و البيهقي و ابن الجارود)

Maknanya: “Allah ada pada azal dan tidak ada sesuatu apapun selain-Nya. Dan ‘arsy Allah berada di atas air.”

Kita lihat, ternyata Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan didahului keterangan yang jauh lebih penting dari pertanyaan yang diberikan, baru kemudian Rasulullah memberikan jawaban. Rasulullah pertama-tama menjelaskan bahwa yang ada pada azal hanyalah Allah. Hanya Allah yang bersifat azali, artinya hanya Allah yang ada tanpa permulaan. Tiada sesuatupun yang ada pada azal kecuali Allah. Tidak ada makhluk satupun yang ada pada azal, baik itu jenisnya maupun materinya. Berbeda dengan yang dijelaskan oleh sebagian filosof. Filosof ada yang mengatakan bahwa jenis makhluk bersifat azali, dan ada juga yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya bersifat azali. Perkataan mereka ini bertentangan dengan keyakinan yang ditanamkan oleh Rasulullah melalui hadits di atas, bahwa hanya Allah semata yang bersifat azali. Orang yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya atau jenisnya saja bersifat azali sama saja mengatakan bahwa ada sesuatu yang ada tanpa permulaan selain Allah dan sama pula mengatakan bahwa makhluk yang dimaksudkan adalah tuhan, karena yang ada tanpa permulaan atau tanpa diciptakan pastilah tuhan semata. Na’uudzu billaah...

Dapat disimpulkan pula dari hadits di atas, karena tidak ada satu pun makhluk yang bersama Allah pada azal, maka Allah ada tanpa tempat, tanpa arah, dan tanpa dilalui oleh masa. Sesungguhnya tempat, arah, dan peredaran masa merupakan salah satu makhluk yang diciptakan Allah. Dan pada azal, hanya Allah yang ada, tidak ada sesuatu pun selain-Nya.

Setelah menanamkan keyakinan yang mulia ini, Rasulullah menjawab dengan menjelaskan bahwa ‘arsy diciptakan di atas air. Artinya, kedua makhluk ini, air dan ‘arsy, adalah dua makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Dalam hadits tersebut tidak disebutkan mana di antara dua makhluk ini yang diciptakan lebih dahulu. Namun, terdapat hadits lain yang menjelaskannya:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِيْ وَقَرَّتْ عَيْنِيْ، فَأَنْبِئْنِيْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ. قَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ مِنَ الْمَاءِ.

Maknanya: “dari Abu Hurairah Radliyallaah ‘anhu, beliau berkata: “Duhai Rasulullah, sesungguhnya saya ketika melihatmu maka tenanglah hatiku dan tenteramlah mataku. Maka beritahukan padaku tentang segala sesuatu.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dari air.”

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa air merupakan bahan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Maka air adalah makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah setelah sebelumnya tidak ada sesuatupun selain Allah. Baru setelah itu ‘arsy diciptakan dari air dan ditempatkan di atas air. Kemudian ‘arsy dan air terpisah dan terdapat suatu jarak dan ruang kosong antara air dan ‘arsy. Dan pada akhirnya, ‘arsy dipikul oleh malaikat yang diciptakan oleh Allah dalam rentan waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

Allah pun berfirman dalam surat al Anbiya ayat 30:

وَجَعَلْنَا مِنَ اْلماَءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ


Maknanya: “dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.”

Ayat tersebut menyebutkan bahwa makhluk yang hidup yang diciptakan dari air, seperti manusia, jin, malaikat, hewan, dan tumbuhan. Namun bukan berarti hanya makhluk yang hidup saja yang diciptakan dari air. Penyebutan makhluk yang hidup dalam ayat tersebut dan tanpa penyebutan makhluk yang tidak hidup dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa makhluk yang hidup lebih mulia dari makhluk yang tidak hidup. Artinya, semua makhluk baik yang hidup maupun tidak sama-sama diciptakan dari air. Dalam ayat lainnya Allah juga menyebutkan hanya sebagian makhluk saja namun sebenarnya makhluk-makhluk yang lain juga memiliki hukum/predikat yang sama dengan yang disebutkan dengan tujuan untuk memberitahukan kemuliaan/kelebihan makhluk yang disebutkan tersebut. Allah berfirman:

 وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah adalah penguasa ‘arsy. Namun tidak dipahami bahwa Allah hanya menguasai ‘arsy saja, melainkan seluruh makhluk di alam ini semuanya dikuasai oleh Allah. Penyebutan ‘arsy ini adalah menunjukkan bahwa Allah memuliakan ‘arsy dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Kasusnya sama ketika, misalkan, ada seorang teman kita yang berprestasi menjuarai suatu perlombaan bergengsi, maka kita akan mengatakan: “saya adalah teman sang juara itu.” Bukan berarti kita hanya memiliki teman satu orang saja, yaitu teman yang menjadi juara itu, melainkan kita memiliki banyak teman selainnya, hanya saja teman yang menjadi juara itu memiliki arti lebih menurut kita.


Sumber:
Lembaga penelitian dan Pengembangan Syahamah. 2008. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Pengurus Besar Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah. Syahamah Press. Jakarta Timur
 facebook.com/Shaykh.Salim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar