Minggu, 09 Februari 2014

Al Qur’an, Azali atau Makhluk?

Hafidzur Rahman
 
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa yang telah menurunkan al Qur’an kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam, menjadikannya kitab suci bagi umat Islam, menjadikannya satu-satunya mu’jizat paling agung bagi Rasulullah yang dapat disaksikan kemu’jizatannya oleh seluruh umat Islam hingga hari akhir, menjaganya dari segala bentuk penyelewengan oleh orang-orang kafir, mengindahkannya dengan bahasa yang menyentuh hati orang yang beriman, memberikan 10 pahala setiap hurufnya bagi setiap pembacanya meskipun tidak memahami maknanya, menyiapkan derajat yang agung bagi orang yang menghafalkannya, menjadikan suara-suara yang membacanya sebagai suara terindah dan telinga yang mendengarnya telinga yang mulia, memuliakan setiap orang yang mengamalkan seluruh isinya dan berakhlak dengan akhlak yang ada di dalamnya, menjadikannya sebagai petunjuk bagi setiap orang yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan menjadikannya penjelas mana yang baik dan mana yang buruk sehingga manusia dapat mengambil hikmah darinya, dan menjadikan setiap huruf-hurufnya terjaga oleh malaikat dan dapat menjadi sumber perlindungan, kesehatan bahkan kekayaan bagi umat Islam.

Semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam yang telah menerima wahyu berupa al Qur’an, serta shahabat dan keluarganya. Sungguh beruntung orang yang membacanya, sungguh bahagia orang yang menghafalkannya, sungguh agung orang yang mampu mengamalkan kandungan al Qur’an dan orang yang mengajarkannya. Semoga kita termasuk dalam golongan mereka. Amin...

Mungkin sekarang masih ada orang yang masih mempertanyakan apakah al Qur’an itu bersifat azali, qadim, atau bukan makhluk, ataukah hadits, baharu, atau merupakan makhluk. Pertanyaan yang tidak seharusnya muncul ini pernah menjadi hal yang sangat krusial ketika kelompok mu’tazilah berkembang dengan pesat pada abad ketiga Hijriah. Mu’tazilah mengatakan bahwa al Qur’an adalah makhluk dan pernyataan ini menjadi keputusan sah 3 khalifah dari Daulah Abbasiah. Namun keputusan ini dihapuskan oleh khalifah al Mutawakkil (232-247 H). Beliau juga melarang pembahasan tentang kemakhlukan al Qur’an, memerintahkan para fuqaha’ dan ahli hadits untuk menyebarkan hadits-hadits seputar sifat-sifat Allah dan keyakinan melihat Allah di akhirat untuk membantah keyakinan Mu’tazilah, serta menyingkirkan orang-orang Mu’tazilah dari lingkaran kekuasaan khalifah.

Pernyataan kaum Mu’tazilah tentang kemakhlukan al Qur’an bertentangan dengan apa yang diyakini oleh kaum ahlussunnah. Namun untuk membahas itu, perlu dikuatkan dahulu pemahaman mengenai sifat-sifat yang layak bagi Allah (sifat wajib dan jaiz) serta sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah (sifat mustahil). Di antara sifat wajib Allah adalah Mukhaalafatuh lil Hawadits, yakni bahwa Allah berbeda dengan seluruh makhluk, dari satu segi maupun seluruh segi, baik dalam Dzat, Shifat, dan Af’al (perbuatan-perbuatan) Allah. Dzat Allah berbeda dengan jisim-jisim makhluk baik yang katsif (yang kasar, dapat dipegang tangan) maupun yang lathif (yang halus, tidak dapat dipegang tangan). Salah seorang ulama salaf, Imam Abu Ja’far ath Thahaawi (227-321 H) mengatakan:

تَعَالَى (يَعْنِي اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَ الْغَايَاتِ وَ الْأَرْكَانِ وَ الْأَعْضَاءِ وَ الْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Maknanya: “Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa Maha Suci dari bentuk-bentuk, ujung-ujung, sisi-sisi, anggota badan besar, serta anggota badan kecil. Allah tidak diliputi oleh enam arah penjuru, seperti halnya seluruh makhluk.”

Kita tidak akan mampu membayangkan Allah karena setiap yang kita bayangkan adalah rangkaian yang berasal dari sesuatu yang pernah kita lihat, dengar, sentuh, dan rasakan. Sedangkan semua itu adalah makhluk. Jadi, setiap yang kita bayangkan itu adalah makhluk, bukanlah al Khaliq, Allah. Oleh karena itu, Rasulullah melarang kita memikirkan dan membayangkan Dzat Allah dan memerintahkan kita untuk memikirkan makhluk ciptaan Allah. Imam Hambali mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ

Maknanya: “Apapun yang terlintas dalam benakmu, maka Allah tidaklah seperti itu.”

Begitu juga sifat dan perbuatan Allah, tidaklah sama dengan sifat dan perbuatan makhluk, juga tidak akan mungkin kita mampu membayangkannya. Adapun sifat yang disebutkan di dalam al Qur’an dan Hadits dan ternyata itu seakan sama dengan sifat dan perbuatan makhluk, seperti halnya sifat al Kalaam (Berfirman), al Bashar (Melihat), dan as Sam’ (Mendengar), sesungguhnya itu hanya sama dalam bahasanya saja. Adapun pengertian sifat-sifat tersebut berbeda ketika digunakan untuk menyifati Allah dan ketika digunakan untuk menyifati makhluk. Jika makhluk berbicara, melihat, dan mendengarkan dengan menggunakan anggota badan serta membutuhkan banyak perantara, maka Allah tidaklah demikian. Berbeda dengan kaum mu’tazilah yang menafikan ketiga sifat tersebut serta beberapa sifat lainnya dari Allah dengan alasan untuk memahasucikan Allah dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk.

Al Qur’an merupakan Kalamullah yang mulia, seperti halnya Taurat, Zabur, Injil dan mushaf-mushaf yang diterima nabi-nabi sebelum Rasulullah Muhammad. Jika disebutkan Kalamullah, maka dapat dipahami dengan 2 pengertian, yakni Kalamullah adz Dzati dan Kalamullah al Munazzal.

1.      Kalamullah adz Dzati, yakni kalam/firman Allah dalam pengertian sifat yang pasti dimiliki oleh Allah. Kalam Allah dalam pengertian ini, sama dengan seluruh sifat-sifat lain yang dimiliki Allah, adalah bersifat azali, abadi, dan tidak serupa dengan sifat makhluk. Azali artinya adalah sifat ini ada tanpa ada permulaan, tidak didahului oleh ketiadaan. Abadi artinya adalah sifat ini ada tanpa akhiran, tidak akan pernah berakhir pada suatu waktu. Sifat Kalam Allah ini berbeda dengan sifat kalam makhluk yang bermula ketika ia sudah mampu berbicara, berakhir ketika ia menjadi bisu, perkataannya diawali oleh diam dan diakhiri dengan diam pula, dan perkataan yang keluar pasti berupa suatu suara, dalam bahasa tertentu, serta tersusun oleh beberapa huruf. Makhluk berbicara pun menggunakan menggerakkan anggota badan tertentu sehingga timbul suatu suara. Sedangkan Kalam Allah tidak berupa suara, bahasa, serta huruf, tidak muncul karena menggerakkan anggota badan, tidak berawal, tidak berakhir, dan tidak disela-selai dengan diam. Dengan sifat Kalam ini, Allah menjelaskan perintah, larangan, hukum-hukum syariat, hikmah-hikmah, dan lain-lain. Maka, al Qur’an dalam pengertian ini bersifat azali, bukanlah makhluk.


2.      Kalamullah al Munazzal, yakni lafadh-lafadh yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril ‘alayhis salam kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam. Kalamullah al munazzal ini tidak lain merupakan ibaroh atau sesuatu yang menjelaskan kalamullah adz dzati yang tidak berupa suara, huruf, dan bahasa, sehingga makhluk dapat memahaminya dengan mudah. Seperti halnya ketika kita mengungkapkan isi hati kita, maka kita membuat suatu perkataan atau tulisan yang dapat dipahami oleh orang lain. Allah membuat tulisan lafadh kalamullah al munazzal (al Qur’an) tersebut di al Lauh al Mahfudh menggunakan al Qalam. Kemudian tulisan tersebut diturunkan oleh Allah secara langsung seluruhnya ke langit dunia dan diteruskan diturunkan secara berangsur-angsur oleh malaikat Jibril ‘alayhis salam kepada Nabi Muhammad shallallah ‘alayh wa sallam selama 22 tahun, 2 bulan, dan 3 hari. Al Qur’an ini tersusun dari huruf-huruf serta bersuara jika dibaca, dan juga ditulis dalam suatu bahasa Arab. Dengan begitu, al Qur’an dalam pengertian ini merupakan makhluk, tidak azali. Namun, perlu dicatat, para ulama memberi batasan bahwa penyebutan al Qur’an adalah makhluk tidak diperbolehkan kecuali dalam forum-forum ilmiah yang menjelaskan hal ini.

Sebagai penutup, semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang ahli Qur’an, membaca Qur’an dengan fashih, mengamalkan isi Qur’an dengan baik, berakhlak dengan akhlak Qur’an, mengajarkan cara membaca dan cara berperilaku Qur’an, dan terhindar dari orang-orang yang menyelewengkan al Qur’an dan dilaknat oleh al Qur’an. Amin ya rabbal ‘alamin...


Sumber:
Syabab ahlussunnah wal Jama'ah. 2006.Majmu’atul Quthuf ad Daniyah fi Bayani Ushulil ‘Aqidatil Islamiyah. Dar Syahamah. Jakarta
Muhammad Idrus Ramli. 2009. Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi. Khalista. Surabaya
Prof. Dr. Imam Muhammad Abu Zahrah. 1996. Aliran politik dan ‘Aqidah dalam Islam. Logos Publishing House. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar