Minggu, 09 Februari 2014

Al Qur’an, Azali atau Makhluk?

Hafidzur Rahman
 
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa yang telah menurunkan al Qur’an kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam, menjadikannya kitab suci bagi umat Islam, menjadikannya satu-satunya mu’jizat paling agung bagi Rasulullah yang dapat disaksikan kemu’jizatannya oleh seluruh umat Islam hingga hari akhir, menjaganya dari segala bentuk penyelewengan oleh orang-orang kafir, mengindahkannya dengan bahasa yang menyentuh hati orang yang beriman, memberikan 10 pahala setiap hurufnya bagi setiap pembacanya meskipun tidak memahami maknanya, menyiapkan derajat yang agung bagi orang yang menghafalkannya, menjadikan suara-suara yang membacanya sebagai suara terindah dan telinga yang mendengarnya telinga yang mulia, memuliakan setiap orang yang mengamalkan seluruh isinya dan berakhlak dengan akhlak yang ada di dalamnya, menjadikannya sebagai petunjuk bagi setiap orang yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan menjadikannya penjelas mana yang baik dan mana yang buruk sehingga manusia dapat mengambil hikmah darinya, dan menjadikan setiap huruf-hurufnya terjaga oleh malaikat dan dapat menjadi sumber perlindungan, kesehatan bahkan kekayaan bagi umat Islam.

Semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam yang telah menerima wahyu berupa al Qur’an, serta shahabat dan keluarganya. Sungguh beruntung orang yang membacanya, sungguh bahagia orang yang menghafalkannya, sungguh agung orang yang mampu mengamalkan kandungan al Qur’an dan orang yang mengajarkannya. Semoga kita termasuk dalam golongan mereka. Amin...

Mungkin sekarang masih ada orang yang masih mempertanyakan apakah al Qur’an itu bersifat azali, qadim, atau bukan makhluk, ataukah hadits, baharu, atau merupakan makhluk. Pertanyaan yang tidak seharusnya muncul ini pernah menjadi hal yang sangat krusial ketika kelompok mu’tazilah berkembang dengan pesat pada abad ketiga Hijriah. Mu’tazilah mengatakan bahwa al Qur’an adalah makhluk dan pernyataan ini menjadi keputusan sah 3 khalifah dari Daulah Abbasiah. Namun keputusan ini dihapuskan oleh khalifah al Mutawakkil (232-247 H). Beliau juga melarang pembahasan tentang kemakhlukan al Qur’an, memerintahkan para fuqaha’ dan ahli hadits untuk menyebarkan hadits-hadits seputar sifat-sifat Allah dan keyakinan melihat Allah di akhirat untuk membantah keyakinan Mu’tazilah, serta menyingkirkan orang-orang Mu’tazilah dari lingkaran kekuasaan khalifah.

Pernyataan kaum Mu’tazilah tentang kemakhlukan al Qur’an bertentangan dengan apa yang diyakini oleh kaum ahlussunnah. Namun untuk membahas itu, perlu dikuatkan dahulu pemahaman mengenai sifat-sifat yang layak bagi Allah (sifat wajib dan jaiz) serta sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah (sifat mustahil). Di antara sifat wajib Allah adalah Mukhaalafatuh lil Hawadits, yakni bahwa Allah berbeda dengan seluruh makhluk, dari satu segi maupun seluruh segi, baik dalam Dzat, Shifat, dan Af’al (perbuatan-perbuatan) Allah. Dzat Allah berbeda dengan jisim-jisim makhluk baik yang katsif (yang kasar, dapat dipegang tangan) maupun yang lathif (yang halus, tidak dapat dipegang tangan). Salah seorang ulama salaf, Imam Abu Ja’far ath Thahaawi (227-321 H) mengatakan:

تَعَالَى (يَعْنِي اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَ الْغَايَاتِ وَ الْأَرْكَانِ وَ الْأَعْضَاءِ وَ الْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

Maknanya: “Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa Maha Suci dari bentuk-bentuk, ujung-ujung, sisi-sisi, anggota badan besar, serta anggota badan kecil. Allah tidak diliputi oleh enam arah penjuru, seperti halnya seluruh makhluk.”

Kita tidak akan mampu membayangkan Allah karena setiap yang kita bayangkan adalah rangkaian yang berasal dari sesuatu yang pernah kita lihat, dengar, sentuh, dan rasakan. Sedangkan semua itu adalah makhluk. Jadi, setiap yang kita bayangkan itu adalah makhluk, bukanlah al Khaliq, Allah. Oleh karena itu, Rasulullah melarang kita memikirkan dan membayangkan Dzat Allah dan memerintahkan kita untuk memikirkan makhluk ciptaan Allah. Imam Hambali mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ

Maknanya: “Apapun yang terlintas dalam benakmu, maka Allah tidaklah seperti itu.”

Begitu juga sifat dan perbuatan Allah, tidaklah sama dengan sifat dan perbuatan makhluk, juga tidak akan mungkin kita mampu membayangkannya. Adapun sifat yang disebutkan di dalam al Qur’an dan Hadits dan ternyata itu seakan sama dengan sifat dan perbuatan makhluk, seperti halnya sifat al Kalaam (Berfirman), al Bashar (Melihat), dan as Sam’ (Mendengar), sesungguhnya itu hanya sama dalam bahasanya saja. Adapun pengertian sifat-sifat tersebut berbeda ketika digunakan untuk menyifati Allah dan ketika digunakan untuk menyifati makhluk. Jika makhluk berbicara, melihat, dan mendengarkan dengan menggunakan anggota badan serta membutuhkan banyak perantara, maka Allah tidaklah demikian. Berbeda dengan kaum mu’tazilah yang menafikan ketiga sifat tersebut serta beberapa sifat lainnya dari Allah dengan alasan untuk memahasucikan Allah dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk.

Al Qur’an merupakan Kalamullah yang mulia, seperti halnya Taurat, Zabur, Injil dan mushaf-mushaf yang diterima nabi-nabi sebelum Rasulullah Muhammad. Jika disebutkan Kalamullah, maka dapat dipahami dengan 2 pengertian, yakni Kalamullah adz Dzati dan Kalamullah al Munazzal.

1.      Kalamullah adz Dzati, yakni kalam/firman Allah dalam pengertian sifat yang pasti dimiliki oleh Allah. Kalam Allah dalam pengertian ini, sama dengan seluruh sifat-sifat lain yang dimiliki Allah, adalah bersifat azali, abadi, dan tidak serupa dengan sifat makhluk. Azali artinya adalah sifat ini ada tanpa ada permulaan, tidak didahului oleh ketiadaan. Abadi artinya adalah sifat ini ada tanpa akhiran, tidak akan pernah berakhir pada suatu waktu. Sifat Kalam Allah ini berbeda dengan sifat kalam makhluk yang bermula ketika ia sudah mampu berbicara, berakhir ketika ia menjadi bisu, perkataannya diawali oleh diam dan diakhiri dengan diam pula, dan perkataan yang keluar pasti berupa suatu suara, dalam bahasa tertentu, serta tersusun oleh beberapa huruf. Makhluk berbicara pun menggunakan menggerakkan anggota badan tertentu sehingga timbul suatu suara. Sedangkan Kalam Allah tidak berupa suara, bahasa, serta huruf, tidak muncul karena menggerakkan anggota badan, tidak berawal, tidak berakhir, dan tidak disela-selai dengan diam. Dengan sifat Kalam ini, Allah menjelaskan perintah, larangan, hukum-hukum syariat, hikmah-hikmah, dan lain-lain. Maka, al Qur’an dalam pengertian ini bersifat azali, bukanlah makhluk.


2.      Kalamullah al Munazzal, yakni lafadh-lafadh yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril ‘alayhis salam kepada Rasulullah Muhammad shallallaah ‘alayh wa sallam. Kalamullah al munazzal ini tidak lain merupakan ibaroh atau sesuatu yang menjelaskan kalamullah adz dzati yang tidak berupa suara, huruf, dan bahasa, sehingga makhluk dapat memahaminya dengan mudah. Seperti halnya ketika kita mengungkapkan isi hati kita, maka kita membuat suatu perkataan atau tulisan yang dapat dipahami oleh orang lain. Allah membuat tulisan lafadh kalamullah al munazzal (al Qur’an) tersebut di al Lauh al Mahfudh menggunakan al Qalam. Kemudian tulisan tersebut diturunkan oleh Allah secara langsung seluruhnya ke langit dunia dan diteruskan diturunkan secara berangsur-angsur oleh malaikat Jibril ‘alayhis salam kepada Nabi Muhammad shallallah ‘alayh wa sallam selama 22 tahun, 2 bulan, dan 3 hari. Al Qur’an ini tersusun dari huruf-huruf serta bersuara jika dibaca, dan juga ditulis dalam suatu bahasa Arab. Dengan begitu, al Qur’an dalam pengertian ini merupakan makhluk, tidak azali. Namun, perlu dicatat, para ulama memberi batasan bahwa penyebutan al Qur’an adalah makhluk tidak diperbolehkan kecuali dalam forum-forum ilmiah yang menjelaskan hal ini.

Sebagai penutup, semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang ahli Qur’an, membaca Qur’an dengan fashih, mengamalkan isi Qur’an dengan baik, berakhlak dengan akhlak Qur’an, mengajarkan cara membaca dan cara berperilaku Qur’an, dan terhindar dari orang-orang yang menyelewengkan al Qur’an dan dilaknat oleh al Qur’an. Amin ya rabbal ‘alamin...


Sumber:
Syabab ahlussunnah wal Jama'ah. 2006.Majmu’atul Quthuf ad Daniyah fi Bayani Ushulil ‘Aqidatil Islamiyah. Dar Syahamah. Jakarta
Muhammad Idrus Ramli. 2009. Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi. Khalista. Surabaya
Prof. Dr. Imam Muhammad Abu Zahrah. 1996. Aliran politik dan ‘Aqidah dalam Islam. Logos Publishing House. Jakarta

DO’A ADALAH SENJATA SEORANG MUKMIN

Asy’ari Masduki, MA
 

Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُـمْ ٱدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ داخِرِينَ
“Dan Tuhan kalian berfirman: Berdo’alah kalian kepadaku maka aku akan perkenankan doa kalian, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembahku mereka akan masuk nerakan Jahannam dalam keadaan hina dina” (Q.S Ghafir:60)
Ayat di atas adalah salah satu dari sekian banyak ayat al Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berdo’a kepada Allah ta’ala. Do’a artinya sebuah permohonan atau permintaan kepada Allah dengan disertai perendahan diri dan penghinaan diri. Do’a juga berarti penyampaian hajat atau kebutuhan seorang hamba kepada Allah, dzat yang menciptakan manfaat dan madharrat (bahaya). Do’a adalah salah satu ibadah yang paling utama. Dari an Nu’man bin Basyir, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ
“Do’a adalah ibadah”. (HR Abu Dawud)
Do’a adalah obat yang paling mujarrab (teruji) dan senjata paling ampuh bagi seorang mukmin untuk mengatasi segala kebutuhan dan menghilangkan segala kesempitan dan kesusahan. Do’a juga merupakan bentuk ekspresi dan pengakuan seorang hamba akan kelemahannya dan pengakuan bahwasanya Allah ta’ala adalah dzat yang maha kuasa, maha kaya, pencipta manfaat dan madharrat, dzat yang maha mengetahui dan maha mendengar.
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami pahwa seluruh do’a yang dipanjatkan oleh seorang mukmin akan dikabulkan oleh Allah. Namun bentuk terkabulnya do’a tidak selalu sesuai dengan jenis permintaan orang yang berdo’a. Terkabulnya sebuah do’a memiliki beberapa bentuk, yaitu:
1.     Terkabul sesuai dengan jenis permintaan dan waktu yang dikehendaki seorang hamba.
2.     Terkabul sesuai dengan jenis permintaan, namun terlambat dari waktu yang dikehendaki oleh seorang hamba, karena adanya hikmah dari Allah ta’ala, dzat yang maha mengatur alam semesta dan maha mengetahui.
3.     Terkabul, tetapi tidak sesuai dengan jenis permintaan seorang hamba, karena dalam sesuatu yang dimintanya tidak ada kemashlahatan (kebaikan) bagi orang tersebut, atau ada mashlahat-nya tetapi ada sesuatu yang lebih banyak mashlahat-nya bagi dia dari pada sesuatu yang dia mohonkan. Hal itu karena Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya dari pada hamba itu sendiri.
Semua bentuk terkabulnya do’a tersebut adalah terjadi sesuai dengan kehendak (masyiah) Allah ta’ala, karena do’a tidak dapat merubah kehendak (masyiah) Allah ta’ala. Masyiah/iradah (kehendak) dan taqdir (ketentuan) Allah sebagaimana juga sifat-sifat Allah yang lain adalah azaliyah abadiyah sehingga tidak dapat berubah-rubah.
      Meskipun do’a tidak dapat merubah ketentuan dan kehendak Allah, namun seorang mukmin harus tetap senantiasa memanjatkan do’a, karena seorang hamba tidak mengetahui  ketentuan dan kehendak Allah untuk dirinya, mana tahu do’a tersebut sesuai dengan kehendak dan ketentuan Allah ta’ala pada azal (keberadaan tanpapermualaan). Dan apabila ternyata do’a tersebut tidak terkabul sesuai dengan yang dikehendaki, maka dia akan tetap mendapat pahala do’a dan fadhilah (keutamaan) doanya apabila do’a tersebut dipanjatkan dengan penuh keikhlasan, sebab memanjatkan do’a adalah perintah Allah ta’ala.
Dalam sebuah hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلهَا
“Tidaklah seorang mukmin berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a yang tidak ada di dalamnya dosa dan memutuskan silaturrahim kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: 1. adakalanya Allah mempercepat mengabulkan do’anya, 2. adakalanya Allah menyimpan do’anya itu sebagai pahala di akhirat dan 3. adakalanya Allah memalingkan keburukan darinya seperti do’anya”. (HR Ahmad dan al Hakim)
Adab-Adab Dalam Berdo’a
Di dalam memanjatkan sebuah do’a seorang hamba hendaknya menjaga adab-adab berdo’a; yaitu:
1.     Menghadap kiblat
2.     Memulai do’a dengan hamdalah
3.     Kemudian membaca shalawat nabi
4.     Kemudian menyebutkan nama-nama Allah atau sifatnya, misalnya mengatakan: Ya rabb, ya rahman, Ya Rahim, Ya malikal mulki, ya dzal jalaali wal ikram, ya hayyu ya qayyum dan seterusnya.
5.     Berdo’a dengan melirihkan suara
6.     Berdo’a dengan menengadahkan telapak tangan bagian dalam, dan mengusapkannya ke muka setelah selesai berdo’a. Rasulullah bersabda:
إِذَا دَعَوتَ اللهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ
 “Apabila kamu berdo’a kepada Allah maka berdo’alah dengan bagian dalam dua telapak tanganmu dan jangan berdo’a dengan bagian luarnya, dan apabila telah selesai maka usapkanlah keduanya pada mukamu” (HR Ibnu Majah)
7.     Berdo’a pada waktu-waktu yang mustajab. di antaranya adalah:
a.    Pada waktu turunnya lailatul qadr
b.    Pada setiap malam hari terutama pada sepertiga malam terakhir, karena ada penjelasan hadits bahwa para Malaikat pada sepertiga malam terakhir diperintahkan oleh Allah untuk turun ke langit bumi untuk menyereru bahwa orang yang berdo’a pada saat itu akan dikabulkan do’anya oleh Allah ta’ala.
c.     Setelah menjalankan shalat lima waktu
d.    Antara adzan dan iqamah
e.    Sesaat pada siang hari jum’at, namun tidak ada ketentuan waktu tepatnya, kerenanya sepanjang siang hari jum’at hendaknya seorang hamba memperbanyak memanjatkan do’a kepada Allah ta’ala. Meski begitu kebanyakan para ulama menjelaskan bahwa waktu mustajab berada pada waktu setelah ashar sebelum maghrib pada hari jum’at.
f.      Ketika seseorang melakukan sujud dalam shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ اْلعَبْدُ مِنْ رَّبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَاكْثِرُوا مِنَ الدُّعَاءِ فِيْهِ
“Sedekat-dekatnya seorang hamba pada rahmat tuhannya  adalah ketika rdia sedang sujud maka perbanyaklah do’a dalam sujud”
8.     Berdo’a di tempat-tempat yang mustajab
a.    Ketika melihat Ka’bah yang mulia
b.    Ketika mencium Hajar Aswad
c.     Ketika Thawaf dan Sa’iy
d.    Setelah minum air zam-zam
e.    Pada hari ‘Arafah
f.     Setelah membaca al Qur’an
g.     Setelah mengkhatamkan al Qur’an, Al imam an Nawawi mengatakan:
يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ اسْتِحْبَابًا
“Benar-benar disunnahkan membaca do’a setelah membaca al Qur’an"
h.    Ketika turunnya hujan
i.      Doa orang yang didzalimi
j.      Do’a musafir (orang yang sedang dalam perjalanan)
k.    Do’a orang yang berpuasa di saat berbuka puasa
l.      Do’anya seorang mukmin untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, Rasulullah -shallalllahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
أَسْرَعُ الدُّعَاءِ إِجَابَةً عِنْدَ اللهِ دُعَاءُ غَائِبٍ لِغَائِبٍ
“Do’a yang paling cepat dikabulkan oleh Allah adalah do’anya seseorang untuk orang yang tidak berada dihadapannya”(HR al Bukhari)
 
sumber: http://annuurfm.blogspot.com/2013/04/doa-adalah-senjata-seorang-mukmin.html 

Jumat, 07 Februari 2014

Makhluk Apakah Yang Pertama Tercipta? (Bagian I)


Pertanyaan ini cukup banyak orang yang melontarkan, termasuk orang-orang di kalangan umat Islam. Sayangnya, jawaban yang muncul cukup bermacam-macam. Padahal Allah dan Rasulullah Muhammad Shallallaah ‘alayh wa sallam telah menjelaskan hal itu dengan sangat gamblang, baik dalam al Qur’an maupun al Hadits. Jadi, seharusnya tidak terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam tentang hal ini.

Hal ini pun pernah ditanyakan oleh sebagian Shahabat yang berasal dari daerah Yaman kepada Baginda Rasulullah Shallallaah ‘alayh wa sallam. Shahabat-shahabat yang berasal dari Yaman memang memiliki keistimewaan dibanding lainnya, yaitu keinginan yang lebih untuk belajar agama. Mereka berkata: “Duhai Rasulullah, kami mendatangimu untuk mempelajari agama dan untuk menanyakan kepada engkau tentang makhluk di alam yang diciptakan pertama kali.” Rasulullah menjawab: 

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ (رواه البخاري و البيهقي و ابن الجارود)

Maknanya: “Allah ada pada azal dan tidak ada sesuatu apapun selain-Nya. Dan ‘arsy Allah berada di atas air.”

Kita lihat, ternyata Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan didahului keterangan yang jauh lebih penting dari pertanyaan yang diberikan, baru kemudian Rasulullah memberikan jawaban. Rasulullah pertama-tama menjelaskan bahwa yang ada pada azal hanyalah Allah. Hanya Allah yang bersifat azali, artinya hanya Allah yang ada tanpa permulaan. Tiada sesuatupun yang ada pada azal kecuali Allah. Tidak ada makhluk satupun yang ada pada azal, baik itu jenisnya maupun materinya. Berbeda dengan yang dijelaskan oleh sebagian filosof. Filosof ada yang mengatakan bahwa jenis makhluk bersifat azali, dan ada juga yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya bersifat azali. Perkataan mereka ini bertentangan dengan keyakinan yang ditanamkan oleh Rasulullah melalui hadits di atas, bahwa hanya Allah semata yang bersifat azali. Orang yang mengatakan bahwa jenis makhluk dan materinya atau jenisnya saja bersifat azali sama saja mengatakan bahwa ada sesuatu yang ada tanpa permulaan selain Allah dan sama pula mengatakan bahwa makhluk yang dimaksudkan adalah tuhan, karena yang ada tanpa permulaan atau tanpa diciptakan pastilah tuhan semata. Na’uudzu billaah...

Dapat disimpulkan pula dari hadits di atas, karena tidak ada satu pun makhluk yang bersama Allah pada azal, maka Allah ada tanpa tempat, tanpa arah, dan tanpa dilalui oleh masa. Sesungguhnya tempat, arah, dan peredaran masa merupakan salah satu makhluk yang diciptakan Allah. Dan pada azal, hanya Allah yang ada, tidak ada sesuatu pun selain-Nya.

Setelah menanamkan keyakinan yang mulia ini, Rasulullah menjawab dengan menjelaskan bahwa ‘arsy diciptakan di atas air. Artinya, kedua makhluk ini, air dan ‘arsy, adalah dua makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Dalam hadits tersebut tidak disebutkan mana di antara dua makhluk ini yang diciptakan lebih dahulu. Namun, terdapat hadits lain yang menjelaskannya:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِيْ وَقَرَّتْ عَيْنِيْ، فَأَنْبِئْنِيْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ. قَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ مِنَ الْمَاءِ.

Maknanya: “dari Abu Hurairah Radliyallaah ‘anhu, beliau berkata: “Duhai Rasulullah, sesungguhnya saya ketika melihatmu maka tenanglah hatiku dan tenteramlah mataku. Maka beritahukan padaku tentang segala sesuatu.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dari air.”

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa air merupakan bahan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Maka air adalah makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah setelah sebelumnya tidak ada sesuatupun selain Allah. Baru setelah itu ‘arsy diciptakan dari air dan ditempatkan di atas air. Kemudian ‘arsy dan air terpisah dan terdapat suatu jarak dan ruang kosong antara air dan ‘arsy. Dan pada akhirnya, ‘arsy dipikul oleh malaikat yang diciptakan oleh Allah dalam rentan waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

Allah pun berfirman dalam surat al Anbiya ayat 30:

وَجَعَلْنَا مِنَ اْلماَءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ


Maknanya: “dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.”

Ayat tersebut menyebutkan bahwa makhluk yang hidup yang diciptakan dari air, seperti manusia, jin, malaikat, hewan, dan tumbuhan. Namun bukan berarti hanya makhluk yang hidup saja yang diciptakan dari air. Penyebutan makhluk yang hidup dalam ayat tersebut dan tanpa penyebutan makhluk yang tidak hidup dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa makhluk yang hidup lebih mulia dari makhluk yang tidak hidup. Artinya, semua makhluk baik yang hidup maupun tidak sama-sama diciptakan dari air. Dalam ayat lainnya Allah juga menyebutkan hanya sebagian makhluk saja namun sebenarnya makhluk-makhluk yang lain juga memiliki hukum/predikat yang sama dengan yang disebutkan dengan tujuan untuk memberitahukan kemuliaan/kelebihan makhluk yang disebutkan tersebut. Allah berfirman:

 وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah adalah penguasa ‘arsy. Namun tidak dipahami bahwa Allah hanya menguasai ‘arsy saja, melainkan seluruh makhluk di alam ini semuanya dikuasai oleh Allah. Penyebutan ‘arsy ini adalah menunjukkan bahwa Allah memuliakan ‘arsy dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Kasusnya sama ketika, misalkan, ada seorang teman kita yang berprestasi menjuarai suatu perlombaan bergengsi, maka kita akan mengatakan: “saya adalah teman sang juara itu.” Bukan berarti kita hanya memiliki teman satu orang saja, yaitu teman yang menjadi juara itu, melainkan kita memiliki banyak teman selainnya, hanya saja teman yang menjadi juara itu memiliki arti lebih menurut kita.


Sumber:
Lembaga penelitian dan Pengembangan Syahamah. 2008. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Pengurus Besar Syabab Ahlussunnah wal Jama’ah. Syahamah Press. Jakarta Timur
 facebook.com/Shaykh.Salim

Senin, 20 Juni 2011

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Masalah keyakinan (aqidah) merupakan salah satu masalah yang fundamental dalam Islam yang menjadi pijakan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa aqidah yang kokoh dan benar  tidaklah mungkin seseorang bisa mengamalkan ajaran Islam secara benar dan sempurna. Oleh karena itu dapatlah kita fahami bila pada masa permulaan dakwah  Rasulullah, beliau lebih memprioritaskan penanaman aqidah pada umat Islam daripada ajaran-ajaran Islam yang lain. Barulah setelah keimanan mereka kokoh beliau meningkatkan kepada masalah syari’ah  (ibadah), hubungan sosial (mu’amalah) maupun doktrin lainnya.
Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang paham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan gamblang, Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Namun Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita tempuh agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah (baca: Ahlussunnah Wal Jama'ah) atau mayoritas umat  Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam, bahwa umatnya tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas.
Mengenai apa dan siapa atau kelompok mana yang berhak disebut Ahlussunnah Wal Jama'ah, berikut penjelasannya.
a. Pengertian Ahlussunnah Wal Jama'ah
Secara bahasa, kata Ahlussunnah Wal Jama'ah dapat ditelusuri sebagai berikut:
a. Ahl, menurut Fairuz Abadi dapat berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab (ashab al-mazhab)[1] jika dikaitkan dengan aliran atau mazhab. Ahl bisa juga berarti yang memiliki, jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan. Dalam al-qur'an disebutkan:
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون (النحل: 43)
Maknanya: "Bertanyalah kepada yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui" (Q.S. an-Nahl, 43).
Menurut pendapat lain kata ahl merupakan badal an-nisbah sehingga jika dikaitkan dengan as-sunnah mempunyai arti orang yang berpaham sunni (as-sunniyyun).
b. As-Sunnah di samping mempunyai arti al-hadits, juga mempunyai arti ath-thariqah (jalan). Dengan demikian, Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang mengikuti jalan (thariqah) Nabi dan para sahabatnya.
c. al-Jama'ah adalah sekumpulan orang banyak. Al-jama'ah diambil dari akar kata jam' yang artinya banyak. Dengan demikian jika kita rangkaian tiga kata tersebut (Ahl as-Sunnah wal Jama'ah) maka artinya adalah sekumpulan orang banyak yang mengikuti jalan Nabi dan para sahabatnya.
Secara terminologi, kata Ahlussunnah Wal Jama'ah dapat kita pahami dari beberapa hadits-hadits Rasulullah sebagai berikut:
1. "عن أنس رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن أمتي لا تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم"
Maknanya: "Dari sahabat Anas –semoga Allah meridhainya- Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat atas kesesatan, jika kalian mendapatkan perselisihan maka ikutlah dengan mayoritas ummat"
2. "فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ" (رواه أبو داود)
Maknanya: "Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian setelah (wafat)ku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Hendaknya kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang mendapatkan hidayah, peganglah dengan kuat dan gigitlah dengan geraham".
3. "إن بني إسرائيل تفرقت ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة، قالوا ومن هي يا رسول الله؟ قال ما أنا عليه وأصحابي" (رواه الترمذي)
Maknanya: "Sesungguhnya bani isra'il pecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, mereka (para sahabat) bertanya: siapakah satu golongan itu wahai Rasulullah?, rasul menjawab: mereka itu yang mengikuti jalanku dan sahabat-sahabatku"
4. "والذي نفس محمد بيده لتفرقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، واحدة في الجنة وثنتان وسبعون في النار، قيل يارسول الله من هم؟ قال الجماعة"
Maknanya: "Demi   Dzat yang jiwaku dalam kekuasaan Nya, sungguh ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga dan 72 lainnya masuk neraka, ditanya: siapakah mereka (ahluljannah) wahai Rasulullah? Rasul menjawab: mereka adalah al-jama'ah (mayoritas ummatku)"
5. "أوْصِيْكُم بِأصْحَابِيْ ثمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُم ثمَّ الّذِيْنَ يَلُونَهُمْ"، وَفيْهِ "عـَليْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإيَّاكُمْ وَالفُرْقة فإنَّ الشّيْطانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أبْعَدُ فَمَنْ أرَادَ بُحْبُوحَة الجَنَّةَ فـلْيَلْزَمِ الجَمَاعَة". (رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَصَحَّحَهُ الحَاكِمُ)
Maknanya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian --mengikuti-- orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah  mereka“. Dan termasuk rangkaian hadits ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Turmudzi,  ia berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).
Dari hadits-hadits Rasulullah yang telah di kemukakan di atas, dapatlah kita pahami bahwa arti Ahlussunnah Wal Jama'ah sebenarnya adalah mayoritas ummat Muhammad yang mengikuti jalan Rasulullah dan para sahabatnya dalam hal keyakinan (aqidah). Dalam masalah ini mayoritas ummat Muhammad senantiasa akan terjaga kemurnian aqidahnya dari kesesatan hingga akhir zaman. Memang secara harfiyah rangkaian kata Ahlussunnah Wal Jama'ah tidak didapatkan dalam satu ayat al-Qur'an ataupun hadits, namun hadits-hadits di atas cukup memberikan pemahaman kepada kita akan definisi Ahlussunnah Wal Jama'ah.

b. Sejarah Dikenalnya Ahlussunnah Wal Jama'ah
Sejarah dikenalnya golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah tidak terlepas dari peran dua tokoh ulama Islam yang hidup pada pertengahan abad 3 hijriyah. Dua tokoh ulama tersebut adalah Abu al-Hasan al-Asy'ari (W. 324 H) dan Abu Mansur al-Maturidi (W. 333 H). Meskipun keduanya hidup di daerah yang berbeda, namum keduanya membawa ajaran yang sama yaitu Ahlussunnah Wal Jama'ah yang tidak lain adalah ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Baik al-Asy'ari atau al-Maturidi sebenarnya tidak mencetuskan mazhab atau ajaran baru, hanya saja al-Asy'ari dan al-Maturidi merumuskan dan menjelaskan kembali ajaran-ajaran Rasulullah dan para sahabatnya dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan yang akurat terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Mu'tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan kelompok-kelompok sesat lainnya.
Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi lahir dari keluarga sunni. Abu al-Hasan al-Asy'ari yang mempunyai nama lengkap Abu al-Hasan 'Ali bin Isma'il bin Abi Basyar Ishaq adalah keturunan Abu Musa al-Asy'ari, seorang sahabat ternama Rasulullah. Pada kaum Abu Musa inilah turun ayat:
"يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لآئم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم" (المائدة: 54)
Maknanya: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Q.S. al-Maidah, 54).
Kemudian Rasulullah menepuk punggung Abu Musa seraya berkata: "Mereka adalah kaum ini". Setelah beberapa saat turunnya ayat ini, rombongan kabilah-kabilah dari negeri Yaman dengan jumlah yang sangat besar datang sowan terhadap Rasulullah. Mereka datang untuk belajar agama lebih mendalam kepada Rasulullah. Rasulullah kagum melihat antusias penduduk Yaman yang berbondong-bondong sowan terhadapnya seraya berkata: "Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah penduduk yang santun dan berhati lembut, (cahaya) iman (telah menerangi penduduk) Yaman…" (H.R. al-Bukhari).
Di samping mereka ingin mengetahui agama Islam lebih mendalam mereka juga menanyakan kepada Rasulullah perihal makhluk Allah yang pertama kali diciptakan, mendengar pertanyaan dari penduduk Yaman tersebut Rasulullah menjawab: "Allah ada pada azal (tidak bermula) dan tidak ada sesuatupun (pada azal) selain-Nya, dan 'arsy-Nya diciptakan di atas air" (H.R. al-Bukhari). Bunyi hadits ini menjelaskan kepada mereka bahwa Allah ada sebelum semuanya ada, Allah ada sebelum terciptanya 'arsy, langit, tempat, arah dan masa. Wujud Allah tidak bermula (azali) dan Ia tidak butuh kepada sesuatupun dari makhluk-Nya. Kemudian Rasul menjelaskan bahwa Allah menciptakan air terlebih dahulu sebelum 'arsy, artinya air adalah ciptaan Allah yang pertama kali.
Abu Musa al-Asy'ari juga adalah salah seorang sahabat Rasul yang fatwa-fatwanya dijadikan rujukan oleh sahabat-sahabat lainnya, ia juga mempunyai suara yang indah dalam melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an sehingga tidak heran jika orang-orang yang mendengarnya akan tersentuh merasakan getaran makna-makna indah yang terkandung dalam al-Qur'an karena keindahan suaranya. Nama al-Asy'ari dinisbatkan kepada al-Jamahir bin al-Asy'ar dan al-Asy'ar adalah keturunan Saba' yang lahir dan tinggal di negeri Yaman.
Ketika pembebasan Khaibar, Abu Musa bersama kaumnya yang berjumlah sekitar 50an hijrah ke negeri Habasyah, mereka tinggal bersama Ja'far bin Abi Thalib hingga kemudian mereka bersama-sama datang kepada Rasulullah. Abu Musa dikarunia keturunan yang shalihin hingga sampai keturunannya pada Abu al-Hasan al-Asy'ari.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari lahir dari keluarga sunni, hanya kemudian ia belajar kepada tokoh utama Mu'tazilah yang bernama Abu Ali al-Jubba'i. Ia mendapatkan banyak pelajaran tentang paham Mu'tazilah lewat pengajian-pengajian yang disampaikan oleh al-Jubba'i hingga kemudian Abu al-Hasan menjadi pemimpin di kalangan mereka (kaum Mu'tazilah). Ini tidak lain karena kecerdasan akalnya dalam menangkap setiap doktrin yang disampaikan gurunya.
Pada usianya yang ke 40, ia mulai merasakan kegelisahan dalam pikirannya. Ia merenungi segala apa yang ia dapatkan dari gurunya, ia memohon kepada Allah ta'ala agar memberikan petunjuk dalam keyakinannya. As-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi'iyah al-Kubra menceritakan: Dalam perenungannya Abu al-Hasan menulis sebuah kitab yang beliau namakan dengan Al-Ibanah, dalam muqaddimah kitab tersebut beliau menyatakan:
 "Wahai manusia, sesungguhnya aku menghindar dari kalian (selama ini), karena aku sedang melakukan pengkajian (dalil-dalil). Kemudian jelaslah bagiku bahwa dalil-dalil tersebut memiliki kekuatan yang seimbang. Lalu aku memohon petunjuk kepada Allah, kemudian Allah memberiku petunjuk agar berpegang pada apa yang telah aku tulis dalam kitab-kitabku ini, dan aku terlepas dari apa yang telah aku yakini, seperti aku terlepas dari pakianku ini"[2].
Dalam kitab yang sama as-Subki juga menyebutkan bahwa suatu ketika Abu al-Hasan tidur dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpinya Rasul berkata kepadanya:
"Wahai Ali (Abu al-Hasan al-Asy'ari) aku (Muhammad) tidak memerintahkanmu meninggalkan ilmu kalam, namun aku hanya menyuruhmu membela (nashru) mazhab yang telah disampaikan dariku (al-mazahib al-marwiyyah 'anni), karena itulah yang haq"[3].
Setelah itu kemudian hatinya menjadi tenang dan keyakinannya menjadi lurus dan mantab, ia menyatakan taubat dari doktrin-doktrin Mu'tazilah. Tepatnya pada hari Jum'at, di masjid jami' kota Bashrah ia naik keatas mimbar seraya berkata dihadapan jama'ah dengan suara yang lantang tanpa ragu:
"…siapapun yang telah mengenaliku, sungguh ia telah mengenaliku, dan siapa yang belum mengenaliku maka aku akan mengenalkan diriku, aku adakah fulan ibn fulan, dulu aku mengatakan bahwa al-Qur'an adalah makhluk, Allah tidak dapat dilihat mata dan perbuatan-perbuatan buruk adalah aku yang berbuat (tanpa ada kehendak Allah) kini aku taubat dengan sungguh-sungguh, keyakinanku berbeda dengan keyakinan Mu'tazilah, aku bantah mereka dan aku ungkap kejelekan-kejelekan mereka".
Pernyataan tegas al-Asy'ari itu membuat Mu'tazilah resah dan geram terhadapnya. Mereka yakin al-Asy'ari akan diterima oleh khalayak ummat. Terbukti ketika al-Asy'ari masih bergabung dengan Mu'tazilah, mereka dapat unjuk gigi karena dapat simpati dari ummat, namun ketika al-Asy'ari taubat dan keluar dari kelompok mereka, Mu'tazilah semakin ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya dan bahkan nyaris habis "diberantas" oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari. Semenjak itulah pengikut-pengikut al-Asy'ari dikenal dengan sebutan Asy'ariyyah atau Asya'irah.
Pengenalan istilah Ahlussunnah Wal Jama'ah sebagai suatu aliran atau mazhab baru nampak pada ashab al-Asy'ari (Asya'irah), seperti al-Baqillani (w. 403 H), al-Baghdadi (w. 429 H), al-Juwaini (w. 478 H) al-Ghazali (w. 505 H) dan lainnya, hingga kemudian az-Zabidi menegaskan dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin (syarah Ihya' Ulumuddin) siapakah sesungguhnya Ahlussunnah Wal Jama'ah itu. Beliau mengatakan:
"إذَا أطْلِقَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ فالمُرَادُ بِهِمْ الأشَاعِرَةُ وَالمَاتُرِيْدِيَّةُ".
 Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6).
Penegasan az-Zabidi ini bukan hanya sekedar ungkapan kosong tanpa bukti, namun penegasan itu berdasarkan pada fakta yang ada pada waktu itu dan bahkan sampai saat ini. Kenyataannya ulama-ulama dari berbagai disiplin ilmu agama (ulama tafsir, hadits, bahasa dan lain-lain), raja-raja muslim yang hidup pada masa al-Asy'ari, setelahnya dan hingga sekarang dengan bangga menisbatkan namanya kepada al-Asy'ari. Jumlah mereka sangatlah banyak dan tidak terhitung. Ini adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa pengikut Abu al-Hasan al-Asy'ari adalah mayoritas ummat ini dan menyebar di seluruh belahan dunia, tidak terkecuali negara Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam.


[1] . Al-Fairuz Abadi, al-Qamus al-Muhith, Beirut: Muassasah ar-Risalah, hlm. 1245
[2] . As-Subki, Abu Nashr Abdul Wahab ibn Ali ibn Abdul Kafi (w. 771 H), Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra, Tahqiq Mahmud Muhammad at-Thanahi dan Abdul Fattah Muhammad, Juz III, hlm. 347-348. lihat pula Muqaddimah al-Ibanah, hlm. 34.
[3] . Ibid., hlm. 348-349.